1. OTONOMI
  2. RAGAM

Kasus yang Membuat Kapolri Hoegeng Pensiun Dini

Kapolri Hoegeng sadar. Ada kekuatan besar yang membuat kasus tersebut menjadi bias.

Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso (merdeka.com). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Randi | Sabtu, 20 Mei 2017 07:30

Otonomi.co.id - Hoegeng Iman Santoso. Nama ini adalah ikon gerakan antikorupsi di tubuh Kepolisian Indonesia. Semasa hidup, Hoegeng memang dikenal sebagai polisi dan pribadi yang jujur dan berintegritas tinggi. 

Bahkan, mantan Presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur melontarkan anekdot yang begitu populer. Suatu ketika, tokoh Nahdatul Ulama ini pernah berkata, "Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Ketiganya adalah patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng Iman Santosa."

Namun di balik integritas dan kualitasnya sebagai penegak hukum, Hoegeng harus menerima pil pahit, pensiun dini sebagai kapolri di usia yang belum genap 50 tahun. Lantaran sebuah kasus pemerkosaan yang terkenal dengan Sum Kuning.

Kasus ini cukup pelik karena diduga melibatkan anak-anak pejabat dan putra salah seorang pahlawan revolusi. Sampai hari ini, pemerkosa Sum masih gelap.

Kasus itu berawal pada 21 September 1970. Hari itu, seorang wanita bernama Sumarijem tengah menunggu bus di pinggir jalan. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya. Beberapa pria dari dalam dalam mobil itu kemudian menyeret wanita malang berusia 18 tahun itu masuk ke dalam mobil.

Di dalam kendaraan roda empat itu, Sum diberi eter hingga tak sadarkan diri. Sum yang sehari-hari berjualan telur itu kemudian dibawa ke sebuah rumah di Klaten, Jawa Tengah. Di sana, dia diperkosa secara bergilir. Setelah para penculik puas melakukan aksi biadab itu, Sum ditinggal begitu saja di pinggir jalan.

Gadis malang ini pun melapor ke polisi. Bukannya dibantu, Sum malah dijadikan tersangka dengan tuduhan membuat laporan palsu, demikian dikutip dari merdeka.com, Sabtu, 20 Mei 2017.

Dalam pengakuannya kepada wartawan, Sum mengaku disuruh mengakui cerita yang berbeda dari versi sebelumnya. Dia diancam akan disetrum jika tidak mau menurut. Sum pun disuruh membuka pakaiannya, hingga telanjang. Hal itu dilakukan dengan alasan, polisi mencari tanda palu arit di tubuh wanita malang itu.

Baca Juga: Uang Pensiun Kapolri Teladan Hoegeng Tak Sampai Rp11 Ribu


Karena melibatkan anak-anak pejabat yang berpengaruh, Sum malah dituding anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Saat itu, memang masa-masanya pemerintah Soeharto gencar menangkapi anggota PKI dan underbouw-nya, termasuk Gerwani.

Kasus Sum disidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Sidang perdana yang ganjil ini tertutup bagi wartawan. Belakangan, polisi menghadirkan penjual bakso bernama Trimo. Pria ini disebut sebagai pemerkosa Sum. Dalam persidangan, tentu saja Trimo menolak mentah-mentah tuduhan tersebut karena merasa tak bersalah.

Jaksa menuntut Sum dipenjara tiga bulan dan satu tahun percobaan. Tetapi, majelis hakim menolak tuntutan itu. Dalam putusan, Hakim Ketua Lamijah Moeljarto menyatakan, Sum tidak terbukti memberikan keterangan palsu. Karena itu, Sum harus dibebaskan.

Dalam putusan hakim dibeberkan pula nestapa Sum selama ditahan polisi. Dianiaya, tak diberi obat saat sakit, dan dipaksa mengakui berhubungan badan dengan Trimo, sang penjual bakso. Hakim juga membeberkan Trimo dianiaya saat diperiksa polisi.

Di sini, Hoegeng terus memantau perkembangan kasus tersebut. Sehari setelah vonis bebas Sum, Hoegeng memanggil Komandan Polisi Yogyakarta AKBP Indrajoto dan Kapolda Jawa Tengah Kombes Suswono. Hoegeng kemudian memerintahkan Komandan Jenderal Komando Reserse Katik Suroso mencari siapa saja yang memiliki fakta soal pemerkosaan Sum Kuning.

"Perlu diketahui, kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah, tetap kita tindak," kata Hoegeng tegas.

Soeharto turun tangan

Untuk menangani kasus Sum, Hoegeng membentuk tim khusus. Namanya 'Tim Pemeriksa Sum Kuning' dan dibentuk Januari 1971. Kasus Sum Kuning terus membesar seperti bola salju. Sejumlah pejabat polisi di Yogyakarta yang anaknya disebut terlibat, membantah lewat media massa.

Bahkan, Presiden Soeharto sampai turun tangan menghentikan kasus Sum Kuning. Dalam pertemuan di istana, Soeharto memerintahkan kasus ini ditangani tim pemeriksa Pusat Kopkamtib. Hal ini dinilai luar biasa. Kopkamtib adalah lembaga negara yang menangani masalah politik luar biasa. Masalah keamanan yang dianggap membahayakan negara. Kenapa kasus perkosaan ini sampai ditangani Kopkamtib?

Dalam kasus persidangan perkosaan Sum, polisi kemudian mengumumkan pemerkosa Sum berjumlah 10 orang. Semuanya anak orang biasa, bukan anak penggede alias pejabat negara.

Para terdakwa pemerkosa Sum membantah keras melakukan pemerkosaan ini. Mereka bersumpah rela mati jika benar memerkosa.

Kapolri Hoegeng sadar. Ada kekuatan besar yang membuat kasus Sum Kuning menjadi bias.

Akhirnya, tanggal 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan sebagai kapolri. Beberapa pihak menilai, Hoegeng sengaja dipensiunkan untuk menutup kasus ini.

Sum sendiri kemudian bekerja di Rumah Sakit Tentara di Semarang. Dia kemudian menikah dengan seorang pria yang sudah dikenalnya saat masih dirawat.

Sutradara Frank Rorompandey mengangkat cerita ini ke layar lebar dengan judul 'Perawan Desa'. Film yang dibintangi Yatti Surrachman ini sukses menyabet empat piala Citra tahun 1980.

Tapi, siapa pemerkosa Sum masih jadi tanda tanya besar. Sampai detik ini. (ita)

 

 

PILIHAN EDITOR

(R/R)
  1. Ragam
  2. Sosok Inspiratif
  3. Hoegeng
KOMENTAR ANDA