1. OTONOMI
  2. RAGAM

Bekas Lokalisasi Prostitusi, Ini Sisi Lain Pasar Klithikan Solo

Berbicara dalam konteks kawasan prostitusi, silir berarti tempat istirahat yang menyejukkan hati.

Suasana Pasar Klithikan Solo (pwk.ft.uns.ac.id). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Ariyanti Ratna | Jum'at, 21 April 2017 17:32

Otonomi.co.id - Ternyata sejak zaman penjajahan Jepang, di Kota Solo telah dibuat tempat lokalisasi bagi pekerja seks komersial (PSK). Pembangunan tempat ini bertujuan untuk melokalisasi para PSK, karena saat itu mereka menjajakan diri di berbagai tempat.

Mereka kemudian dikumpulkan dalam satu lokasi tertentu, yang kemudian disebut dengan kawasan silir. Silir berasal dari bahasa Jawa yang berarti embusan angin yang sejuk dan menyegarkan.

Berbicara dalam konteks kawasan prostitusi, silir berarti tempat istirahat yang menyejukkan hati. Silir akan memberi kenikmatan hidup yang dapat melupakan segala masalah dunia. Dilansir dari tentangsolo.web.id, sekitar tahun 1947 saat Pemerintahan Kota Solo berada dibawah kepemimpinan Wali Kota Utomo Ramelan, kawasan Silir resmi dibuka menjadi tempat prostitusi.

Pemkot memberi bangunan sederhana dan tempat tinggal yang sehat sebagai tempat tinggal para PSK. Pemerintah pun mulai mengawasi kesehatan para PSK dengan menyediakan tenaga medis untuk memeriksa kesehatan para PSK secara berkala.

Pasar Klithikan Solo
© 2017 otonomi.co.id/kiekooke.blogspot.co.id

Tahun 1998, lokalisasi Silir akhirnya ditutup oleh Pemkot Solo, mengingat Solo dianggap sebagai ikon budaya-keberadaan Silir sebagai pusat lokalisasi dianggap menjadi penghalang. Silir hanya meninggalkan sisa menjadi pasar ayam dan pasar besi bekas.

Mulai tahun 2006, di sekitar kawasan Silir digunakan sebagai lokasi baru para pedagang klithikan. Para pedagang tersebut sebelumnya menempati kawasan Monumen '45 Banjarsari. Kawasan Silir tersebut kini lebih dikenal dengan nama Pasar Klithikan Notoharjo. (poy)

PILIHAN EDITOR

(AR/AR)
  1. Jawa Tengah
  2. Ragam
  3. Solo
KOMENTAR ANDA