1. OTONOMI
  2. RAGAM

Pura Pakualaman, Bangunan Penuh Filosofi di Kota Yogyakarta

Semua bangunan di Pura Pakualaman secara umum mengikuti kaidah arsitektur Jawa.

Pura Pakualaman (decouvir-yogyakarta.blogspot.com). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Randi | Jum'at, 11 Agustus 2017 13:36

Otonomi.co.id - Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menggelar jelajah budaya Pura Pakualaman. Kegiatan itu bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan sejarah Pakualaman.  

Pura Pakualaman adalah istana kecil bekas Kadipaten Pakualaman. Istana ini menjadi tempat tinggal para pangeran Pakualam mulai tahun 1813 sampai dengan 1950.

Para peserta jelajah budaya terdiri dari perwakilan 18 kelurahan rintisan budaya se-Kota Jogja, Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Jogja, dan mahasiswa. Para peserta dipandu Pengageng Kawedanan Budaya dan Pariwisata Kadipaten Pakualaman KPH Indrokusumo untuk mengenal bangunan-bangunan yang ada di Pura Pakualaman. 

KPH Indrokusumo mengenalkan berbagai benda beserta filosofinya. Salah satunya pintu gerbang atau biasa disebut Gapura Danawara. Pintu tersebut menjadi salah satu yang menarik perhatian peserta.

Gapura Danawara adalah akses masuk utama menuju Pura Pakualaman. Indrokusumo menerangkan, bentuk gapura memiliki filosofi, seperti pada atap gapura, bentuknya kampung srotong (rumah tradisional Jawa). Bentuk itu menyimbolkan kesederhanaan hidup yang ada di dalamnya.

Dalam gapura, terdapat tulisan Jawa yang berbunyi Wiwara Kusuma Winayang Reka. Artinya adalah Pura Pakualaman merupakan zona kehidupan yang memiliki kedalaman pikiran yang mendalam.

"Kemudian saat masuk gerbang bisa dilihat ada cermin. Cermin itu tujuannya untuk menyadarkan pengunjung yang datang. Apakah dia sudah rapi atau belum saat masuk. Maknanya, sebelum memasuki dunia pemikiran, manusia harus mawas diri terlebih dahulu," kata KPH Indrokusumo dikutip dari harianjogja.com, Jumat 11 Agustus 2017.

Di dalam Pura Pakualaman, dia menerangkan, ada Bangsal Sewatama. Bangunan itu adalah pendopo atau bangunan terbuka yang dalam rumah Jawa termasuk bangunan publik dan yang biasanya digunakan untuk pagelaran kesenian tradisional. Bangsal Sewatama merupakan bangunan besar dengan atap limasan berjajar tiga.

Pengageng Urusan Kapanitran Kadipaten Pakualaman KRT Projo Anggono menambahkan, Pura Pakulaman memiliki 54.238 meter persegi. Secara umum, bangunan yang ada di sana mengkuti kaidah arsitektur Jawa. (poy)

PILIHAN EDITOR

(R/R)
  1. Yogyakarta
  2. Jawa
  3. Daerah Istimewa Yogyakarta
KOMENTAR ANDA