1. OTONOMI
  2. RAGAM

Menilik Tradisi Membatik dan Pemakaiannya di Indonesia

Batik hadir dalam setiap kehidupan etnis, seperti menjadi salah satu elemen dalam berbagai upacara adat yang terkait dengan kehidupan.

Batik Peksi Madura (Otonomi.co.id/Dian Rosalina). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Dian Rosalina | Jum'at, 19 Mei 2017 07:33

Otonomi.co.id - Pada awalnya batik merupakan benda seni yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Batik hadir dalam setiap kehidupan etnis tersebut seperti menjadi salah satu elemen dalam berbegai upacara adat yang terkait dengan kehidupan manusia.

Misalnya saja saat kelahiran digunakan sebagai gendongan bayi oleh sang ibu, upacara menjelang kedewasaan, upacara pernikahan, dan upacara kematian sebagai penutup jenazah atau dalam bahasa Jawa disebut luruhnya layon.

Dalam kaitan dengan keraton Jawa, batik adalah bagian dari busana kebesaran Raja. Di keraton Jawa masih ada kepercayaan tentang nilai spiritual terhadap ragam hias tertentu. Hal itu digambarkan secara simbolis pada kain batik yang berisi hamparan dan doa yang baik bagi pemakainya.

Untuk melukis sebuah batik memerlukan satu alat yang dinamakan canting. Canting tersedia dalam berbagai ukuran lubang yang terkait dengan jenis dan halusnya garis atau titik dari kain batik. Canting berlubang (carat) satu digunakan untuk membuat garis, titik, atau cecek (kumpulan titik-titik).

Nah, hasil lukisan inilah yang kemudian dikenal sebagai ragam hias yang umumnya terkait dengan letak geografis, sifat dan tata kehidupan, kepercayaan, adat-istiadat, dan alam sekitar. Hasil dari lukisan kain batik pun bisa dibedakan menurut asal usulnya.

Misalnya canting yang terbuat dari tembaga dengan pegangan yang terbuat dari bambu berasal dari Pekalongan. Lalu canting yang terbuat dari kuningan dengan pegangan yang terbuat dari kayu berasal dari Yogyakarta.

Pro-kontra teknologi dalam proses membatik

Batik yang berkembang di tanah Jawa pada dasarnya adalah seni lukis. Karena itu, ketika penggunaan teknologi sablon dan printing mulai digunakan untuk membuat batik, hal tersebut menimbulkan perbedaan pendapat.

Antara menjaga tradisi membatik yang sesungguhnya dan mereka yang lebih bisa menerima pembaharuan meski menyimpang dari esensi membatik yang sesungguhnya. Meski begitu, melihat makna, peran, fungsi dan posisi batik yang begitu kuat, seharusnya masyarakat bisa lebih menjaga kain ini sebagai tradisi. (dwq)

(sumber: Batik Indonesia, Sepilihan Koleksi Batik Kartini Muljadi, tahun 2017)

PILIHAN EDITOR

(DR/DR)
  1. Jawa
  2. Kebudayaan Daerah
  3. Budaya Indonesia
  4. Batik
  5. Tradisi Unik
KOMENTAR ANDA
OTONOMI DAERAH
TERPOPULER
Nasional