1. OTONOMI
  2. RAGAM

Mbah Liem, Tokoh yang Disebut-sebut Pencetus Slogan 'NKRI Harga Mati'

Mbah Liem merupakan guru spiritual Gus Dur, dalam ceramah dan pidatonya Mbah Liem selalu mengedepankan tema soal kebangsaan dan kenegaraan.

KH Muslim Rifai Imampuro alias Mba Liem (nu.or.id). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Rohimat Nurbaya | Jum'at, 19 Mei 2017 06:35

Otonomi.co.id - Saat ini orang-orang di media sosial dan berbagai pemberitaan media massa sedang gencar-gencanrnya mengampanyekan kesatuan bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia banyak yang mengharapkan tidak ada lagi yang saling menghujat antar agama, ras dan golongan.

Setelah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2017 yang sempat memanas, terutama di Jakarta, kini para petinggi di negeri ini meminta supaya seluruh rakyat Indonesia tidak terpecah belah. Tidak membedakan ras, agama dan golongan.

Karena itu pula pada Selasa 16 Mei 2017, Presiden Joko Widodo mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh lintas agama. Pejabat yang akrab disapa Jokowi itu meminta, meski terdapat perbedaan keyakinan, semua pihak harus dapat bersatu menjaga kebinekaan dan solidaritas.

"Apa pun agamanya, apa pun sukunya, apa pun golongannya, untuk menjaga kebinekaan dan membangun solidaritas," ujar Jokowi dikutip dari laman kemenag.go.id.

Dia meminta keutuhan Negara Kesatian Republik Indonesia (NKRI) tetap dijaga, serta mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara.

Soal kesatuan bangsa ini, di Indonesia terkenal ada slogan 'NKRI Harga Mati'. Biasanya slogan ini dipasang di kantor-kantor militer terutama Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Lantas siapa yang mencetuskan slogan NKRI harga mati itu?

Dikutip dari laman nu.or.id, KH Muslim Rifai Imampuro atau yang akrab dipanggil Mbah Liem disebut-sebut merupakan pencetus slogan 'NKRI Harga Mati'.

Kiai yang merupakan guru spiritual Presiden keempat RI KH Aburahman Wahid itu, dalam ceramah dan pidatonya selalu mengedepankan tema soal kebangsaan dan kenegaraan. Kurang lebih kalimatnya “Nugo-mugo NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati” (Semoga NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati).

Tak hanya itu, di masjid pondok pesantren, setiap setelah iqomat sebelum shalat berjamaah, Mbah Liem selalu diwajibkan membaca doa untuk umat Islam, bangsa dan negara Indonesia.

Setelah berkelana nyantri ke berbagai pondok pesantren, terutama berguru pada Kiai Shirot Solo, Mbah Liem akhirnya hijrah ke Klaten tinggal di dusun Sumberejo Desa Troso Kecamatan Karanganom lalu mendirikan 'Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti'.

Nama pesantren tergolong unik, disebut-sebut merupakan bukti konsistensi Mbah Liem dalam mencintai dan menjaga NKRI dan Pancasila.

Nama itu dipilih Mbah Liem, karena saat itu Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia kerap dipersoalkan oleh kelompok radikal. (poy)

PILIHAN EDITOR

(RN/RN)
  1. Jokowi
  2. Presiden Jokowi
  3. Pancasila
  4. NKRI
  5. NKRI HARGA MATI
  6. Mbah Liem
  7. Nahdlatul Ulama
KOMENTAR ANDA