1. OTONOMI
  2. RAGAM

Lestarikan Budaya Ngapem, 5.000 Apem Siap Dibagikan di Malioboro

Kue apem memiliki filosofi yakni memohon ampun, mengampuni, memaafkan, dan..

Tradisi ngapem, Yogyakarta (muslimminang.wordpress.com). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Rizki Astuti | Jum'at, 19 Mei 2017 13:51

Otonomi.co.id - Komunitas Malioboro of Art (Koma) Yogyakarta akan menggelar kirab budaya ruwah apeman pada Minggu 21 Mei 2017. Acara ini digelar untuk melestarikan budaya ruwuh lewat tradisi ngapem.

Menurut Ketua Panitia, Imam B Rastanegara, tradisi Jawa ruwahan terus dilestarikan karena dirasa kian meluntur di masyarakat Yogyakarta. Nantinya, dalam kirab akan mengarak 5.000 kue apem yang dibentuk menjadi gunungan.

Iman mengatakan kue apem memiliki filosofi yang baik dalam budaya Jawa, yakni untuk memohon ampun, mengampuni, memaafkan, dan juga menjaga silaturahmi antar tetangga.

"5.000 apem yang akan diarak kami buat sendiri dengan biaya sendiri sukarela dari semua eleman panitia dan teman-teman komunitas yang nantinya akan diarak dari Kantor Dinas Pariwisata DIY hingga titik nol kilometer," ujar Imam yang dikutip dari Krjogja.com, Jumat 19 Mei 2017.

Sebelumnya, Koma juga mengadakan kegiatan ngapeman di beberapa lokasi dari Gunung Merapi hingga Pantai Parangtritis. Lalu untuk acara puncaknya, 5.000 kue apem dibagikan kepada masyarakat setelah diarak melalui Jalan Malioboro.

Sementara itu Wakil Ketua Panitia Jasmadi, menambahkan selama rangkaian kegiatan yang dimulai 14-21 Mei tersebut, Koma juga mengadakan kegiatan seni di sepanjang Jalan Malioboro seperti pentas musik, panggung kesenian, pembacaan puisi, dan pasar seni.

"Kegiatan ini kami laksanakan semata-mata karena kami ingin selalu melestarikan budaya, kita ingin budaya yang menjadi tradisi kita ini tak luntur atau justru hilang," ujarnya.

Jasmadi mengatakan, para seniman yang berasal dari berbagai komunitas juga akan mengarak gunungan dengan bahan lain contohnya hasil bumi sayuran dan buah, dan juga gunungan barang bekas yang diolah menjadi karya seni. (poy)

PILIHAN EDITOR

(RA/RA)
  1. Yogyakarta
  2. Ragam
  3. Tradisi Unik
KOMENTAR ANDA