1. OTONOMI
  2. RAGAM

Kisah Ali Sadikin Benahi Jakarta dengan Kas Daerah Hanya Rp18

Bang Ali langsung mendapat sorotan dan dia pun dijuluki sebagai 'Gubernur Maksiat.'

Gubernur Jakarta Ali Sadikin (Sejarahri.com). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Dian Rosalina | Sabtu, 20 Mei 2017 10:31

Otonomi.co.id - Sebelum menjadi kota metropolitan seperti sekarang ini, Jakarta pernah mengalami masa-masa sulit pasca kemerdekaan. Namun berkat tangan dingin seorang Ali Sadikin, wajah Jakarta pun perlahan berubah.

Sebagai seorang Gubernur Jakarta, Ali Sadikin adalah sosok legendaris yang dikenal sedikit bicara dan banyak bekerja. Meski memiliki pengalaman memimpin di bidang militer, namun tetap saja bukan perkara mudah membenahi Jakarta di tahun 1966.

Sebanyak 60 persen atau sekitar 3 juta penduduk Jakarta tinggal di daerah permukiman kumuh. Lebih dari 60 persennya anak-anak tidak bersekolah. Selain itu, masalah keamanan juga mendesak Jakarta harus dibenahi. Bahkan di dalam kas pemerintahan hanya tersisa Rp18 saja.

Ali pun harus memutar otaknya karena ia membutuhkan dana untuk menyekolahkan anak-anak telantar, memerangi kemiskinan, dan memperbaiki fasilitas kota. Akhirnya ia pun membuat sebuah gebrakan dengan mengadakan lotto/hwa-hwe (semacam judi) yang dilegalkan.

Dia menaikkan pajak balik nama kendaraan bermotor. Bang Ali memungut pajak judi untuk kaum Tionghoa, bahkan ia sampai melokalisasi para Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kramat Tunggak.

Ya, benar saja, gebrakan Bang Ali langsung mendapat sorotan dan dia pun dijuluki sebagai 'Gubernur Maksiat', istrinya pun disebut sebagai 'Madame Hwa-Hwe. Namun Ali tetap cuek menanggapinya.

Dia berpikir bahwa semuanya demi rakyat Jakarta. Ali mengaggap lebih aman jika PSK dilokalisir dan perjudian dilegalkan tetapi diawasi secara ketat. Daripada pura-pura menutup mata sementara PSK dan perjudian menjamur di mana-mana.

Setelah ia lengser pada 5 Juli 1977, Soekarno pun berkata, "Dit heeft Ali Sadikin gedean (Inilah yang telah dilakukan Ali Sadikin)." Namun usai Soeharto menjabat menjadi Presiden, Ali dianggap sebagai orang yang tidak diinginkan lagi.

Pemerintah Soeharto akhirnya berusaha mengasingkannya dari hiruk pikuk politik Indonesia. Dan dia pun menghembuskan nafas terakhirnya di negara orang yakni di Singapura pada Selasa 20 Mei 2008. (poy)

(sumber: Merdeka.com)

PILIHAN EDITOR

(DR/DR)
  1. DKI Jakarta
  2. Ragam
  3. Cerita Sejarah
KOMENTAR ANDA