1. OTONOMI
  2. RAGAM

Jatiseeng, Desa Pelopor Pembuatan Tahu Gejrot Sejak Pra-Kemerdekaan

Sedikitnya ada enam pabrik tahu gejrot yang masih eksis hingga saat ini. Pabrik tersebut diteruskan secara turun temurun.

Tahu gejrot (Brilio.net). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Dian Rosalina | Minggu, 13 Agustus 2017 13:31

Otonomi.co.id - Tahu berwarna cokelat tanpa isi, kuah kecap, cabai rawit, bawang merah, dan gula merah dicampur menjadi satu menjadi sebuah sajian nikmat menggugah selera. Ya, inilah tahu gejrot, kuliner khas kebanggaan Cirebon, Jawa Barat.

Tak banyak orang yang tahu dari mana asal muasal kuliner nikmat ini tersaji hingga kini. Menurut penelusuran sejarah, tahu gejrot berasal dari pabrik tahu yang berada di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon. Pembuatan tahu tersebut bahkan berlangsung sejak zaman pra-kemerdekaan.

Sedikitnya ada enam pabrik tahu gejrot yang masih eksis hingga saat ini. Pabrik tersebut diteruskan secara turun temurun. "Dan ada tahun 2001 memasuki generasi ke-3," kata Dulhamid, salah satu keturunan dari pemilik pabrik tahu di Cirebon.

Ia bercerita, dulu pabrik tersebut milik orang keturunan Tionghoa. Lalu masyarakat setempat diberdayakan sebagai penjual tahu keliling untuk memasarkannya.

Namun, ketika situasi ekonomi dan politik mulai membaik, masyarakat yang memang bermodal tebal mulai meninggalkan usaha tahu gejrot, memilih lahan usaha lain di kota-kota yang menjanjikan keuntungan lebih besar dan prospek menjanjikan.

Di Desa Jatiseeng, dalam sehari satu pabrik rata-rata menghabiskan satu kuintal kacang kedelai. Dengan skala produksi untuk tiga kilogram kacang kedelai mampu menghasilkan 600 butir tahu, sedangkan harga jual ke pengecer Rp45 per butir tahu.

Yang perlu disiasati bagi pembuat tahu gejrot yaitu musim dan cuaca. Sebab, kedua faktor itu merupakan hambatan pemasaran yang cenderung berimbas pada aktivitas produksi.

Asal muasal

Sebenarnya nama Gejrot berasal dari ucapan para pengecernya. Keranjang khusus untuk dipikul, para  pedagang sudah menyediakan air gula merah dalam wadah gendul (botol). Sedangkan bumbu-bumbu lainnya biasa digerus mendadak.

Tentu saja air gula merah yang encer dalam botol berlubang kecil jika dikucurkan harus dengan jalan dihentak atau digejrotkan, dan menimbulkan bunyi jrot-jrot-jrot. Lantaran yang digejrot tahu, maka latah orang menyebutnya tahu gejrot.

Tahu gejrot kini ternyata tidak hanya digemari oleh orang-orang desa. Di kota-kota besar pun banyak yang ketagihan makanan tradisional ini. Bahkan ada beberapa restoran yang menyediakan sajian tahu gejrot.

Pada perkembangannya, tahu gejrot tidak hanya dihasilkan atau diproduksi dari Desa Jatiseeng. Namun pabrik-pabrik tahu gejrot sudah bisa ditemui di Jakarta, Bandung, Tegal, dan kota-kota lain. Uniknya, hampir semua pabrik tersebut dimotori oleh orang-orang Jatiseeng Cirebon yang merupakan daerah asal makanan tradisional tahu gejrot. (poy)

(sumber: Disbudpar.jabarprov.go.id)

PILIHAN EDITOR

(DR/DR)
  1. Jawa Barat
  2. Cirebon
  3. Kuliner Daerah
  4. Kuliner Indonesia
KOMENTAR ANDA