1. OTONOMI
  2. RAGAM

Ini Alasan Soeharto Tetap Menjabat Presiden Pada 1998

"Sebab, bagi saya soal kedudukan presiden adalah bukan hal yang mutlak. "

BJ Habibie (BJhabibie.id/Otonomi.co.id). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Stella Maris | Minggu, 14 Mei 2017 06:05

Otonomi.co.id - Soeharto memimpin Indonesia selama tiga dasawarsa, melalui enam kali pemilu. Melalui Sidang Umum MPR di awal Maret 1998, Soeharto kembali terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia, sebelum akhirnya mengundurkan diri pada 21 Mei.

Namun setelah kembali menduduki kursi presiden, mahasiswa dan masyarakat justru terus melancarkan demonstrasi. Mereka meminta Soeharto dan wakilnya, BJ Habibie turun dari jabatannya.

Belum lagi, kebijakan Soeharto menghilangkan subsidi energi alias BBM. Saat itu, kondisi Indonesia semakin mencekam. Demo dan aksi bakar-bakaran terjadi di beberapa daerah Indonesia.

Setelah terpilih menjadi presiden, pada Selasa 19 Mei 1998, Soeharto melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan di Istana Merdeka.

Dalam pertemuan tersebut, Soeharto menyampaikan pendapatnya mengenai situasi Indonesia kala itu di mana masyarakat menginginkannya mundur dari jabatan presiden. Presiden Soeharto pun membacakan pernyataan yang disiarkan langsung melalui jaringan televisi.

Nah isi pernyataan itu dituangkan dalam buku berjudul Detik-detik yang Menentukan karya BJ Habibie.

"Sebab, bagi saya soal kedudukan presiden adalah bukan hal yang mutlak. Saudara-saudara tentu juga ingat proses pemilihan dan pelantikan presiden pada waktu saya akan dicalonkan menjadi Presiden untuk 1998-2003 oleh kekuatan sosial politik dan disampaikan kepada fraksi-fraksi dalam MPR. Sebelumnya saya sudah mengatakan apakah benar rakyat Indonesia masih percaya pada saya, karena saya sudah 77 tahun," kata Soeharto.

"Saya minta supaya dicek benar-benar semuanya itu. Dan ternyata semua kekuatan sosial politik: PPP, PDI, Golkar, maupun ABRI mengatakan memang benar sebagian besar rakyat masih menghendaki saya sebagai Presiden untuk masa bakti 1998-2003."

Menerima laporan itu, Soeharto mengaku sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan padanya. Soeharto merasa bertanggungjawab atas semua yang terjadi di Indonesia.

Kalaupun harus mundur, Soeharto menegaskan kalau hal itu bukan perkara besar. "Hanya masalahnya, rasa tanggungjawab saya... Jadi jangan nilai saya sebagai penghalang, tidak sama sekali. Semata-mata karena tanggungjawab saya untuk membuat keselamatan bangsa dan negara..." (dwq)

PILIHAN EDITOR

 

 

(SM/SM)
  1. Ragam
  2. Soeharto
  3. Presiden Soeharto
  4. Presiden Indonesia
KOMENTAR ANDA
OTONOMI DAERAH
TERPOPULER
Nasional