1. OTONOMI
  2. RAGAM

Mengungkap Alasan Mengapa Pidato Soekarno Tak Pernah Bikin Mengantuk

Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko dalam bukunya 'Sewindu Dekat Bung Karno' mengatakan bahwa Soekarno adalah ahlinya menguasai psikologi massa.

Presiden Soekarno (penasoekarno.wordpress.com). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Dian Rosalina | Jum'at, 19 Mei 2017 09:01

Otonomi.co.id - Selama menjabat sebagai presiden, pidato-pidato Soekarno selalu lantang dan menggugah. Itulah mengapa ketika Soekarno berorasi tak ada satupun orang yang mengantuk atau merasa bosan dengan kata-katanya.

Kepiawaiannya sebagai orator ulung dimulai ketika ia berusia muda. Semasa indekos di Surabaya, Jawa Timur, Soekarno berlatih pidato sambil berteriak-teriak di kamarnya yang sempit. Jika kebetulan teman-temannya mendengar, mereka pun akan menyindir Soekarno.

"Biasa, Soekarno sedang berusaha menyelamatkan dunia," ucap teman-teman Soekarno yang waktu itu sama-sama indekos di rumah Ketua Sarekat Islam, HOS Cokroaminoto.

Pertama kalinya Soekarno berpidato ketika menggantikan Cokroaminoto dalam sebuah pertemuan. Pidato pria muda itu berhasil membakar semangat peserta rapat dan selanjutnya dia sering dipercaya menggantikan Cokroaminoto berpidato.

Di Bandung, Soekarno semakin menunjukkan eksistensinya sebagai orator ulung. Pidato-pidatonya di depan puluhan ribu rakyat sangat membakar semangat. Suaranya naik turun mengikuti irama pidatonya. Bahkan ketika ia mulai memaki pemerintah kolonial, maka Soekarno akan berteriak-teriak sejadi-jadinya dengan tangan mengepal di udara.

Hal ini pula yang menyebabkan Soekarno selalu diawasi oleh polisi Belanda. Karena mereka takut pidato tersebut bisa membuat rakyat bangkit melawan penjajah. Setelah kemerdekaan Indonesia, pidato 17 Agustus yang dibacakan Bung Karno pun selalu dinanti oleh masyarakat.

Walau ada teks, ia tak pernah terpaku pada isi teks. Dia selalu berimprovisasi. Maka puluhan ribu orang akan berduyun-duyun untuk menyaksikan pidato Soekarno. Dan salah satu kerumunan itu adalah Ali Sadikin yang waktu itu masih menjadi perwira muda Angkatan Laut.

Dia penasaran ingin melihat langsung Soekarno berpidato. Dan benar saja, berjam-jam Bang Ali terpesona melihat Soekarno berpidato di atas panggung. Tidak hanya di dalam negeri, orasi-orasi Soekarno pun terkenal hingga mancanegara.

Salah seorang wartawan legendaris dari Associated Press, Peter Barnett, juga kagum mendengar pidato-pidato Soekarno. Dia sampai menjuluki Soekarno sebagai 'the great orator'. Lalu apa yang membuat pidato Soekarno tidak membosankan?

Ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko dalam bukunya 'Sewindu Dekat Bung Karno' mengatakan bahwa Soekarno adalah ahlinya menguasai psikologi massa. Ditambah keahliannya berbicara dan pengetahuan amat luas, membuat pidatonya bagai singa tanpa tandingan.

Karena itu pula, Bambang sampai menderita sakit pada saraf belakang. Penyebabnya adalah terlalu lama berdiri tegap dalam sikap sempurna. Wajar saja, sebagai perwira TNI ajudan Presiden, Bambang dituntut selalu berdiri tegak jika Soekarno berpidato.

"Bung Karno memang orator besar," kata Bambang memuji. (poy)

(sumber: Merdeka.com)

PILIHAN EDITOR

(DR/DR)
  1. Presiden Soekarno
  2. Cerita Sejarah
  3. Soekarno
KOMENTAR ANDA