1. OTONOMI
  2. RAGAM

Kisah Pemakaman Tertua di Dunia dan Kantor Wali Kota Jakarta Pusat

Dulu, Kota Batavia hanya berbentuk kastil. Kemudian berkembang menjadi kota yang dibatasi tembok pertahanan.

Kantor Wali Kota Jakarta Pusat (anekainfojakarta.blogspot.co.id) ©2017 Otonomi.co.id
Reporter : Rizki Astuti | Selasa, 10 Januari 2017 10:20

Otonomi.co.id - Anda pernah mendengar cerita tentang Kerkhoflaan atau Museum Taman Prasasti? Kalau Anda coba cari di internet, informasi yang banyak didapat adalah keterkaitan Kantor Wali Kota Jakarta Pusat dengan nama-nama di atas tadi. Lantas, apa hubungan kedua nama tempat itu?

Kantor Wali Kota Jakarta Pusat yang berdiri megah di Jalan Tanah Abang 1 Jakarta Pusat itu ternyata berdiri di atas lahan Museum Taman Prasasti alias Tempat Pemakaman Umum Kebon Jahe Kober alias Kerkhof. Konon, Kerkhof ini sudah ada sejak 1795.

Namun bukan hanya itu fakta menariknya. Karena ternyata Kerkhof merupakan salah satu pemakaman tertua yang ada di dunia.

Dulu, Kota Batavia hanya berbentuk kastil. Kemudian berkembang menjadi kota yang dibatasi tembok pertahanan. Namun tembok-tembok itu tidak dapat menahan perkembangan kota yang semakin meluas keluar tembok. Sebab, semakin banyak pelaut dan pedagang yang singgah di kota ini yang datangnya tidak hanya dari kawasan Nusantara tetapi juga benua lain.

Sejak dulu Batavia memang sudah menjadi kota yang modern dengan fasilitas rumah sakit, sekolah, gereja, dan fasilitas tempat ibadah. Gereja tua yang berdiri di Batavia tercatat berada di dalam Kasteel Batavia, Oude Koepelkerk (1626).

Kruiskerk atau Gereja Salib di Batavia karya Johan Nieuhof (1618-1672
© 2017 otonomi.co.id/Goodnewsfromindonesia.id

Tetapi pada 1682, gereja itu terpaksa dibongkar untuk dijadikan tempat meriam-meriam besar. Lalu pada 1736 ada gereja baru yang diberkati, yakni Gereja Kubah (Koepelkerk), lalu diganti de Nieuwe Hollandsche Kerk.

Pada masa itu, halaman gereja juga berfungsi sebagai makam orang yang telah meninggal. Sehingga di halaman luar gereja banyak makam. Kondisi Kota Batavia yang semakin padat membuat atmosfer tidak sehat bagi warga kota, sehingga terserang wabah penyakit seperti malaria, diare, dan lainnya yang menewaskan banyak korban.

Bentrokan dengan pihak lain juga menyebabkan semakin banyak warga kota yang meninggal. Akibatnya, halaman gereja tak mampu lagi sebagai lahan pemakaman. Pemerintah Kota Batavia memutuskan mencari lahan makam baru di luar kota.

Setelah itu, tuan tanah dan Gubernur Jenderal Batavia ke-29, W.V Halventius menghibahkan tanahnya ke Kebon Jahe, Tanah Abang seluas 5,5 hektar ke pemerintah Kota Batavia untuk dijadikan lahan pemakaman baru. Lokasi ini memang jauh dari tembok Kota Batavia, namun cukup strategis karena dekat dengan Sungai Krukut.

Karena itulah, tanah tersebut digunakan sebagai pemakaman dengan sebutan Kerkhoflaan atau Kebon Jahe Kober (kuburan bersama) dan resmi digunakan pada 28 September 1795.

(RA/RA)
NEXT: Cerita menarik yang tersimpan di atas lahan Kantor Wali Kota Jakarta Pusat
  1. DKI Jakarta
  2. Ragam
KOMENTAR ANDA