1. OTONOMI
  2. RAGAM

Desainer Musa Prihatin dengan Maraknya Modernisasi Busana Adat

Melihat banyaknya pengantin wanita Indonesia yang memadukan kebaya modern dengan prosesi adat, membuat Musa merasa prihatin.

Kebaya Modern (Otonomi.co.id/Kiki Astuti). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Dian Rosalina | Jum'at, 11 Agustus 2017 15:31

Otonomi.co.id - Budaya adat istiadat nenek moyang, sebagian besar masih diikuti oleh masyarakat Indonesia. Beberapa daerah pun masih menjalani berbagai macam ritual untuk menghargai prosesi adat yang ada, salah satunya dalam pernikahan.

Namun sayangnya, sekarang ini banyak perdebatan yang terjadi ketika para calon pengantin tersebut ingin memadukan adat dengan modernisasi budaya. Hal itu diungkapkan oleh salah satu desainer kenamaan Musa Widyatmodjo saat ditemui usai konferensi pers Pasar Nusantara di Pondok Indah Mall II, Jakarta Selatan, Kamis 10 Agustus 2017.

"Soal busana adat, esensinya kita sudah terbawa arus modernisasi. Bahkan ketika saya harus mendesain kebaya pernikahan, para calon pengantin berdebat soal agama, adat, dan modernisasi. Saya bilang buat simple, kalau Anda ingin berbusana hijab saat pernikahan tidak apa-apa, tapi prosesi adat seperti injak telor atau unggah-ungguhnya tidak usah," kata dia.

Melihat banyaknya pengantin wanita Indonesia yang memadukan kebaya modern dengan prosesi adat, membuat Musa merasa prihatin akan pakem yang dilupakan. Padahal menurutnya, jika ingin mengikuti suatu prosesi adat, seorang pengantin wanita harus mengenakan busana yang memang sudah diatur.

"Kalau mau prosesi adat, ya sudah pakailah kebaya yang memang sudah ada pakemnya. Jangan kemudian kita merusaknya. Misalnya mau kebaya transparan, Anda seorang wanita muslimah lalu pakai manset, sedangkan itu untuk menutup aurat. Ya, daripada seperti itu lebih baik desain ulang dengan kutubaru penuh furing agak tinggi, jadi tidak usah pakai manset," ujar Musa.

Walau berasal dari pelaku kreatif, Musa pun tidak menampik kreativitas kini sudah semakin berkembang dan tak membatasi ide orang lain. Tapi yang perlu diingat bahwa kebaya modern, bukan busana adat, melainkan hasil kreasi dan agaknya jangan dikenakan saat prosesi adat.

Selain itu, ia menjelaskan Indonesia pada dasarnya sudah terkena tsunami budaya. Yang berarti beberapa busana tradisional seperti kebaya mudah diubah-ubah dan tidak diperjelas.

"Ini pesan dari Almarhum Iwan Tirta. Bangsa Indonesia belum memahami siapa diri mereka. Mempersatukan bukan berarti kita seragam, melainkan harus tahu tempatnya. Anak-anak muda sekarang itu kurang wawasan tentang budaya mereka sendiri karena tidak didik menjadi seorang Indonesia, ya kan?" ucapnya.

Musa pun berharap ke depannya, masyarakat Indonesia bisa lebih menghargai budaya sendiri seperti halnya Jepang. Menurutnya, siapa lagi yang bisa mempertahankan tradisi nenek moyang Indonesia selain masyarakatnya sendiri. (dwq)

PILIHAN EDITOR

(DR/DR)
  1. Budaya Indonesia
KOMENTAR ANDA