1. OTONOMI
  2. RAGAM

Achmad Mochtar, Ilmuwan asal Sumatera Barat yang Jasanya Terlupakan

Penemuan-penemuannya yang jenius menjadikannya sosok terpercaya dari dua era penjajahan.

Achmad Mochtar (aipi.org) ©2017 Otonomi.co.id
Reporter : Dian Rosalina | Selasa, 14 Februari 2017 11:51

Otonomi.co.id - Achmad Mochtar, nama besarnya tertera di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat sebagai penghormatan atas jasanya sebagai salah satu ilmuwan terbaik yang lahir di Indonesia. Namun sayangnya, sosok ini nyaris terlupakan dalam sejarah.

Lahir di Bonjol, Sumatera Barat pada 1892, pria bergelar dokter ini adalah seorang peneliti unggul di masa penjajahan Belanda sampai Jepang. Penemuan-penemuannya yang brilian menjadikannya sosok terpercaya dari dua era penjajahan. Tetapi akhir hayatnya tidak seindah kariernya.

Semua berawal dari semasa penjajahan Jepang. Ketika itu, tentara Sekutu sudah masuk ke wilayah Indonesia Timur, dan Jepang kewalahan karena harus menghadapi sekutu sekaligus Indonesia yang ingin merdeka.

Dalam masa perang tersebut, pemerintah Jepang menghadapi kenyataan bahwa harus kehilangan 900 pekerja romusa (kerja paksa) akibat kematian dengan gejala tetanus.

Beberapa hari sebelum kematian tersebut, mereka diberi vaksin TCD (tifus, kolera, disentri) oleh Staf Lembaga Eijkman yang diketuai oleh Achmad Mochtar. Para staf memang menyuntikkan cairan yang dibilang vaksin atas perintah Jepang, tetapi yang terjadi malah kematian 900 orang tersebut dalam waktu hampir bersamaan.

Karena kematian tersebut, Polisi Jepang atau Kenpetai menyatakan bahwa pemimpin Eijkman, Achmad Mochtar dan seluruh stafnya bersalah dan harus bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Mereka menuduh Achmad Mochtar dan stafnya sengaja mengganti vaksin dengan kuman tetanus supaya pekerja mati.

Akhirnya mereka pun menangkap Mochtar dan seluruh stafnya untuk dihukum lewat penyiksaan, mulai dari dibakar, disetrum, sampai akhirnya satu dokter tewas karena tidak tahan dengan hukuman itu. Tak ingin lagi banyak korban yang berjatuhan, Mochtar mengakui kesalahan tersebut dan memberikan syarat kepada Jepang agar membebaskan semua teman-temannya.

Para staf Eijkman lain kemudian dibebaskan, namun Mochtar harus menanggung hukuman pancung pada 3 Juli 1945. Bahkan setelah dipancung, tubuh tanpa kepala tersebut digilas dengan traktor sebelum akhirnya dikubur.

Selanjutnya: Fitnah >>>>

(DR/DR)
NEXT: Fitnah
  1. Ragam
  2. Sumatera Barat
  3. Cerita Sejarah
KOMENTAR ANDA