1. OTONOMI
  2. ORBIT

Sugeng, Tukang Tambal Ban yang Sulap Motornya Jadi Perpustakaan

Profesi sebagai penambal ban sepeda motor tak menyurutkan niatnya untuk berbagi ilmu kepada sesama.

Sugeng, tukang tambal jadi pustakawan keliling (lampungekspres-plus.com). ©2017 Otonomi.co.id Editor : Dwifantya Aquina | Rabu, 11 Januari 2017 08:04

Otonomi.co.id - Buku adalah jendela dunia. Kunci untuk membukanya adalah membaca. Mungkin itu yang ada di benak Sugeng Hariyono, pria kelahiran Ponorogo yang tinggal di Lampung Selatan ini hingga akhirnya membuka perpustakaan keliling (perpusling) dengan sepeda motor.

Profesi sebagai penambal ban sepeda motor tak menyurutkan niatnya untuk berbagi ilmu kepada sesama. Ide membuka perpusling ini tercurah dalam hatinya di atas rasa prihatin.

Bagaimana tidak, ketika Sugeng menanyakan soal perpustakaan di lingkungan tempat tinggal di Desa Pasuruan, Penengahan ini, jawaban yang didapatnya sungguh mengecewakan.

"Saya tanya warga, 'pak dimana perpustakaan ya'. Dijawabnya, 'apa itu perpustakaan?'," tutur Sugeng.

Berawal dari situlah, pria yang menyukai buku sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini membeli sepeda motor GL tahun 1968 dari tukang rongsokan pada 2013. Setelah diperbaiki, motor pustaka itu beroperasi pada Maret 2014.

Awalnya, koleksi buku di perpustakaan Sugeng masih berjumlah 60 buah. Ia membelinya dari tukang rongsokan. Setiap hari Sugeng keliling di Kecamatan Ketapang. Ada lima desa yang didatanginya, yakni Pematang Pasir, Sumberagung, Lebung Nala, Kemukus,dan Sidoasih. Paling dekat jaraknya 3 km dan yang paling jauh 16 km di Sumberagung.

Sugeng menuturkan, pada pertama kali perpuslingnya beroperasi memang terasa sulit. 'Dagangannya' sepi peminat.

"Tapi lama kelamaan ketika dijelaskan respons untuk meminjam banyak. Kita sistemnya pinjam gratis, saya percaya dengan buku yang dipinjamkan jadi nggak sampai hilang," katanya.

Sugeng bahkan memiliki motto sendiri agar masyarakat sekitar tertarik dengan buku-buku di perpustakaannya. Mottonya yaitu, 'Membaca Itu Gaul'.

Selama memberikan edukasi dan menanamkan minat baca kepada masyarakat sekitar, dalam perjalanannya Sugeng juga bertemu dengan pujaan hatinya. Sugeng bertemu dengan pasangannya di tengah rutinitasnya setiap hari mulai pukul 16.00 hingga pukul 18.00 WIB menjajakan bacaan di atas sepeda motor kuno kesayangannya.

"Berkeliling, datangi warga di halaman rumahnya dan nawarin pinjaman buku. Akhirnya ketemu sama istri saya dan kami menikah November kemarin (2016. Ya karena dia (Asih Kurniawati) juga suka meminjam buku," kenangnya seperti dikutip dari laman saibumi.com.

Ia mengaku, kendala saat berkeliling adalah saat hujan, soalnya takut buku kehujanan dan ia terpaksa harus berteduh di tempat warga. Namun, kini ia tak perlu khawatir, karena seorang donatur telah menyumbangkan bantuan berupa motor beroda tiga untuk perpusling miliknya.

Bantuan itu diperolehnya dari Rektor Universitas Terbuka, dimana ia mendapatkan beasiswa selama menempuh pendidikan tingginya.

Donatur

Saat ini, Sugeng sudah memiliki sekitar 6.000 buku dalam perpuslingnya. Buku-buku tersebut didapatkan dari donasi-donasi yang diberikan, ada yang dari Kupang, Jawa, dan Sumatera.

"Saya disuruh berangkat ambil buku sendiri, saat itu seniman dari Jawa yang ingin sumbangkan buku. Dia minta saya yang harus datang dan bertemu dia. Ketika sampai di rumahnya, disuruh pilih sendiri untuk dibawa semampunya. Saya bawa cuma dua karung karena sudah tidak mampu lagi," imbuhnya.

Koleksi yang dimilikinya kebanyakan buku anak-anak, mulai dari dongeng, cerita rakyat dan calistung. Ia pun turut meminjamkan novel. Menurut dia, novel yang paling laris dipinjam adalah karangan Tere Liye.

Di perpusling milik Sugeng, setiap peminjam bisa meminjam maksimal tiga buku dengan waktu seminggu tanpa harus membayar apapun. Nanti setelah seminggu ia mendatangi kembali rumah peminjam untuk mengambil buku-buku pinjaman tersebut.

"Sekarang warga sudah sadar dan malah meminta untuk mencarikan buku masakan. Harapan saya pemerintah bisa mendukung kegiatan ini. Kalau pemerintah membantu, jadi banyak sekali buku yang bisa masuk ke motor pustaka saya," ucapnya.

Berkat perjuangannya mengajak masyarakat sadar membaca, Sugeng pun diganjar penghargaan dari Perpustakaan Nasional pada Agustus 2016. Ia menyabet penghargaan Darma Pustaloka untuk kategori tokoh masyarakat yang peduli dengan perpustakaan dan minat baca masyarakat dari perpusnas di Balai Kartini Jakarta.

"Ada enam orang dari seluruh Indonesia, dari Lampung (yang mendapat penghargaan) saya," katanya. (Randi Mulyadi/dwq)

PILIHAN EDITOR

(DA)
  1. Lampung
  2. Kabupaten Lampung Selatan
KOMENTAR ANDA