1. OTONOMI
  2. ORBIT

Dari Gelang Anyaman, Pria Ini Mampu Hidupi 11 Orang Karyawannya

Namun, keuntungan komersial bukanlah satu-satunya yang ingin diraih oleh Daniel. Hal ini terlihat dari filosofi arti dari brand itu sendiri.

Meno Industries (Qlapa.com). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Dian Rosalina | Senin, 07 Agustus 2017 07:35

Otonomi.co.id - Daniel Hendra sadar bahwa fashion tidak hanya untuk wanita tetapi juga pria. Walau tidak terlalu memperhatikan penampilan, namun aksesori bagi pria juga penting. Inilah yang membuat dia mendirikan sebuah brand bernama Meno Industries.

"Ada satu titik di mana kita merasa bahwa ini bukan waktunya lagi kita impor barang dari luar terus dijual ke Indonesia. Tetapi apa yang bisa digali dari potensi Indonesia, dan bisa kita jual ke luar," ujarnya.

Keinginan ini kemudian diwujudkan lewat produk gelang tali handmade. Saat itu, Daniel yang memang hobi membuat gelang mulai menawarkan gelang kreasinya pada orang-orang di sekitarnya.

Pembuatan gelang Meno
© 2017 Qlapa.com/Qlapa.com

"Pada waktu itu memang customer-nya baru sebatas teman dekat. Kebetulan saya punya satu komunitas dan pada satu itu ada event dan mereka semua menggunakan gelang yang saya produksi. Saya yang menganyam itu sendiri dan kurang lebih ada 60 orang yang pakai gelang itu. Rasanya priceless banget," kata pria yang sebelumnya bergelut di dunia IT ini.

Setelah merasa bahwa produknya cukup diterima pasar, bersama dengan rekannya, Hartono, Daniel memutuskan untuk serius membangun Meno Industries. Selain karena hobi, ia juga percaya fashion untuk pria juga kini sudah makin berkembang. Dalam arti, pria juga mulai makin ekspresif dalam bergaya.

Namun tidak mudah bagi brand-nya untuk dikenal orang. Ia harus memiliki ciri khas sendiri yang membuatnya berbeda. Oleh sebab itu, selain gelang tali, Meno mulai merambah gelang batu, gelang paracord, tas, dan topi. Dan semuanya bertema outdoor apparel dengan warna-warna alam.

Meno Industries
© 2017 Qlapa.com/Qlapa.com

"Meno itu punya tiga warna utama yang pertama adalah oranye, hitam, dan abu-abu. Oranye memiliki arti manusia harus siap dan waspada serta bisa membantu orang lain. Warna hitam menyadarkan masih ada kegelapan, serta abu-abu memiliki arti cahaya harapan," ucap Daniel.

Harga yang ditawarkan juga cukup bersaing. Mulai dari Rp55.000 untuk tote bag hingga Rp650.000 untuk gelang batu premium. Hingga saat ini produknya bisa dibeli secara online di marketplace seperti Qlapa dan juga di workshop Meno Industries.

Meski mendirikan sebuah bisnis, namun keuntungan komersial bukanlah satu-satunya yang ingin diraih oleh Daniel. Hal ini terlihat dari filosofi arti dari brand itu sendiri.

"Nama Meno itu sendiri dalam bahasa Papua artinya sahabat. Jadi lewat Meno Industries kita ingin merangkul sahabat-sahabat di luar sana. Kita ingin berteman dengan banyak orang, dan yang paling penting kita ingin jadi saluran berkat untuk banyak orang," kata pria kelahiran tahun 1982 ini.

Saat ini, tim yang berada di balik Meno terdiri dari 11 orang yang berbagi tugas untuk menangani marketplace, social media, produksi, hingga operasional. Misi untuk merangkul sahabat juga dijalankan dengan cara merekrut teman-teman yang bukan dari kalangan berpendidikan.

Namun, memberikan kesempatan mereka untuk berkarya dengan cara memberi keterampilan yang berguna bagi hidupnya. Daniel juga berharap ke depannya Meno Industries bisa menjadi market leader sekaligus trend setter fashion pria di Indonesia.

Selain itu, juga bisa lebih banyak membantu teman-teman yang punya keterbatasan dari segi pendidikan untuk diberikan keterampilan yang berguna bagi hidupnya.

Artikel ini bekerja sama dengan Qlapa.com. (poy)

PILIHAN EDITOR

(DR/DR)
  1. Kisah Inspiratif
  2. Qlapa.com
KOMENTAR ANDA