1. OTONOMI
  2. NEWS

Pengakuan Presiden Soeharto Soal Penembak Misterius

Komnas HAM mencatat ada 2.000 korban selama operasi 'bersih-bersih' preman itu.

Presiden Soeharto saat muda (Soeharto.co) ©2017 Otonomi.co.id
Reporter : Rohimat Nurbaya | Sabtu, 20 Mei 2017 06:05

Otonomi.co.id - Di era Orde Baru, ada orang-orang yang disebut petrus alias penembak misterius. Sasaran para petrus ini adalah preman yang suka buat onar dan orang yang mengenakan tato.

Kala itu, tato memang identik dengan preman. Dikutip dari laman merdeka.com,  aksi premanisme sempat marak terjadi di era 1980-an, saat Soeharto berkuasa. Warga Jakarta dan beberapa kota besar lainnya gelisah jika bepergian ke luar rumah. Sebagian besar preman itu memang nekat memeras dan melakukan aksi kejahatan kepada warga.

Namun tidak lama setelah maraknya aksi premanisme itu, muncul petrus. Jasad para preman kerap ditemukan tak bernyawa akibat ditembak secara misterius. Konon kabarnya, ribuan pria bertato yang diduga preman tewas karena ditembak.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mencatat ada 2.000 korban selama operasi 'bersih-bersih' preman itu. Pada 2012, Komnas HAM menyimpulkan petrus adalah pelanggaran HAM berat. Hingga kini, siapa para petrus itu masih jadi misteri.

Belakangan, Presiden Soeharto--dalam otobiografinya Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya karya  G Dwipayana dan Ramadhan KH--mengaku dialah yang memerintahkan petrus itu. Awalnya, Soeharto membantah telah memerintahkan aksi penembakan itu. Namun akhirnya dia mengatakan, hal itu harus dilakukan sebagai sebuah treatment therapy.

Saat itu, Soeharto menyatakan bahwa tindakan tegas dengan cara tembak-- suka tidak suka--harus dilakukan kepada pelaku kejahatan yang melawan.

"Lalu ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya," kata Soeharto dalam buku itu.

"Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan. Maka kemudian redalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan tersebut," kata Pak Harto.

Meski operasi keamanan itu tergolong sadis, aksi premanisme di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, saat itu cenderung menurun. Bahkan, tak sedikit masyarakat yang mendukung langkah pemberantasan preman itu.

Masyarakat yang sebelumnya takut keluar rumah, kembali menjalankan aktivitasnya tanpa takut diganggu para preman.

Bersambung ke halaman selanjutnya...Ketar-ketir

 

(RN/RN)
NEXT: Ketar-ketir
  1. Cerita Sejarah
  2. Soeharto
  3. Presiden Soeharto
KOMENTAR ANDA