1. OTONOMI
  2. NEWS

Dilema Penjiplakan Batik dan Sulitnya Mengurus Hak Cipta

Ada beberapa faktor yang membuat perajin masih enggan melindungi motif batik karyanya

Perajin Batik (nurfmrembang.com). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Dian Rosalina | Jum'at, 21 April 2017 17:10

Otonomi.co.id - Beberapa waktu lalu, perajin batik tulis di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mengeluhkan maraknya penjiplakan batik oleh sesama kompetitor. Sulitnya pengurusan hak cipta atas motif menjadi masalah yang dihadapi oleh para perajin saat ini.

Desainer batik dan tenun, Wignyo Rahadi mengatakan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) saat ini masih sulit dilakukan oleh perorangan seperti perajin batik. Selain terbatasnya kuota sertifikasi, membedakan motif satu dengan lainnya dirasa cukup sulit.

"Kalau menghindari saling jiplak antar pengrajin itu sulit ya, karena batik sangat mudah sekali untuk dijiplak. Sebagai contoh kalau bintang ujungnya beda sedikit pasti susah," kata Wignyo kepada Otonomi.co.id, Kamis 20 April 2017.

Selain itu, ada beberapa faktor yang membuat perajin masih enggan melindungi motif batik karyanya, seperti biaya yang mahal, lama pembuatan hak cipta, dan penyusunan narasi karya yang dibuat. Namun menurut Wignyo, pendaftaran HAKI yang dilakukan oleh pemerintah daerah masih lebih mudah ketimbang perorangan.

"Misalnya ulos, itu karakternya kan kuat sekali itu punya Sumatera Utara dan tidak bisa diklaim oleh daerah lain. Itu yang bisa didaftarkan pemerintah daerah tidak bisa per orang. Harus pemerintah daerah yang mendaftarkan HAKI tersebut, kalau perorangan cukup sulit," ujar Wignyo.

Jika beberapa orang sudah merasa tersakiti ketika karyanya dijiplak, justru desainer dari brand Tenun Gaya itu menanggapi santai bila ada orang yang meniru atau menjiplak karyanya.

"Hati kecil memang kesal. Tapi kalau berpikir positif, berarti apa yang saya buat sudah bagus. Kalau saya buat tapi tidak ditiru terasa sepi, berarti produk tidak bagus. Tapi kalau ditiru berarti produk kami bagus dan harus dikembangkan lagi," paparnya. (ita)

PILIHAN EDITOR

(DR/DR)
  1. Jawa Timur
  2. Budaya Indonesia
  3. Batik
  4. Kabupaten Tulungagung
KOMENTAR ANDA