1. OTONOMI
  2. NEWS

Mahasiswa Malang Ciptakan Alat Penyelamat Lumba-lumba

Alat ini diciptakan karena lumba-lumba seringkali berenang terlalu dekat dengan perairan.

Mahasiswa Malang pencipta Doctor (Malangvoice.vom). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Rizki Astuti | Senin, 17 Juli 2017 18:11

Otonomi.co.id - Sekelompok mahasiswa Malang, Jawa Timur berhasil menciptakan sebuah alat untuk menyelamatkan lumba-lumba. Alat tersebut adalah Doctor (Dolphin Protector) yang memanfaatkan gelombang ultrasonik dan piezoelektrik effect.

Doctor adalah hasil ciptaan Maulana M R, Alam M S, Nurbaiti I, Agustin, Vitalia P A dari Jurusan Manajemen Suberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya.

Menurut mereka, pola migrasi lumba-lumba tidak sesuai dengan lokasi tujuan mencari makan, berkembang biak, dan mencari habitat baru. Seringkali, lumba-lumba berenang terlalu dekat dengan perairan yang dangkal. Akibatnya, lumba-lumba terjebak tidak dapat kembali ke laut lepas.

Lumba-lumba memiliki kemampuan sensor menggunakan gelombang ultrasonik untuk komunikasi dan menentukan keadaan lingkungan sekitar dengan frekuensi yang mencapai lebih dari 20KHz. Namun kerap terjadi kebisingan di perairan akibat aktivitas manusia.

Alat Doctor
© 2017 otonomi.co.id/malangvoice.com

"Mulai dari pengeboran industri minyak, gas, pelayaran komersil dan sebagainya. Ini membingungkan lumba-lumba karena frekuensinya tumpang-tindih dan mengakibatkan pembelokan migrasi lumba-lumba menuju luar jalur migrasi," ujar Maulana dikutip dari Malangvoice.com, Senin 17 Juli 2017.

Doctor dirancang untuk mengirimkan sinyal peringatan melalui gelombang ultrasonik sehingga lumba-lumba bisa menjauhi perairan dangkal.

"Sistem kerja Doctor memanfaatkan pergerakan gelombang laut yang dinamis, sehingga dapat memberikan tekanan pada bagian bawah Doctor kemudian menyebabkan pegas karet pada bagian alat bergerak naik turun," jelasnya.

Maulana mengatakan, gaya mekanik yang ditimbulkan akibat pergerakan pegas karet diubah oleh film PVDF sebagi material piezoelektrik menjadi listrik. Energi itu kemudian diproses ke dalam papan sirkuit PCB FR4 untuk disalurkan ke dalam ultrasonik transducer dan sebagian listrik masuk ke dalam power inverter sebagai cadangan energi.

Setelah itu ultrasonik transducer mengubah energi listrik yang diterima menjadi gelombang bunyi dengan frekuensi mencapai 20kHz. Gelombang frekuensi 20kHz atau yang disebut gelombang ultrasonic bergetar melewati dinding Doctor yang selanjutnya bergetar keluar menuju perairan.

"Sehingga lumba-lumba yang bergerak menuju perairan dangkal ketika mencapai radius jangkauan Doctor akan menerima sinyal tanda bahaya sehingga akan bergerak menjauhi perairan dangka," katanya. (dwq)

PILIHAN EDITOR

(RA/RA)
  1. Jawa Timur
  2. Malang
  3. Sosok Inspiratif
KOMENTAR ANDA