1. OTONOMI
  2. NEWS

Kisah Broto, Sopir yang Hidupnya Prihatin Usai Nyonya Meneer Pailit

Pria berumum 62 tahun itu pun mengatakan hari-harinya yang dulu sukses kini berubah drastis usai bisnis jamu tersebut mulai runtuh.

Nyonya Meneer (njonjameneer.com). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Dian Rosalina | Jum'at, 11 Agustus 2017 06:35

Otonomi.co.id - Persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis 3 Agustus 2017 lalu memutuskan bahwa perusahaan jamu legendaris Nyonya Meneer bangkrut. Hal itu karena Nyonya Meneer diduga memiliki utang kepada sejumlah kreditur sebesar Rp89 miliar.

Runtuhnya perusahaan jamu yang berdiri sejak 1919 ini tak hanya berefek pada penjualan, melainkan kepada seluruh karyawannya. Termasuk pria yang bekerja sebagai sopir di Nyonya Meneer selama bertahun-tahun ini. Usai Nyonya Meneer ditutup, pria bernama Isubroto ini pun terpaksa dirumahkan.

"Ya mau gimana lagi saya sempat baca koran kalau pabrik Nyonya Meneer kan sudah pailit. Sekarang hanya bisa pasrah, enggak bisa berbuat apa-apa lagi,” kata dia dikutip dari Metrosemarang.com, Jumat 11 Agustus 2017.

Broto, begitulah ia akrab disapa mengatakan sudah 25 tahun bekerja di pabrik Nyonya Meneer. Sejak 1991, ia sudah menjadi supir mobil para karyawan pabrik jamu tersebut.

Ia menyampaikan sempat merasakan kejayaan Nyonya Meneer sebagai pabrik jamu tertua di Jawa Tengah, bahkan di Indonesia. Jumlah pegawainya pun masih relatif banyak.

“Dulu itu sangat banyak karyawannya. Sebulan saya dapat gaji Rp60 ribu, upah yang sangat besar waktu itu karena bisa menaikkan derajat saya di mata masyarakat sekitar,” kata dia.

Pria berumum 62 tahun itu pun mengatakan hari-harinya yang dulu sukses kini berubah drastis usai bisnis jamu tersebut mulai runtuh. Ia menyebut Nyonya Meneer diambang kehancuran saat memasuki awal tahun 2000 silam.

Sejak saat itu, aktivitas produksinya mulai tidak stabil. Broto mengaku harus melalui berbagai kesulitan keuangan bersama ratusan buruh lainnya saat bekerja di Nyonya Meneer. Sedihnya, ia pun tidak mendapat uang pensiun, padahal jika bisa dibayar, Broto bisa mendapatkan Rp63 juta.

"Tetapi perusahaan enggak pernah ngasih. Dan ternyata enggak cuma saya saja, banyak sekali teman yang bernasib serupa. Berulang kali ditagih, enggak pernah ngasih," kata dia.

Kini setelah tidak bekerja lagi, Broto pun harus menelan pil pahit karena tidak mendapatkan haknya sebagai seorang pensiunan. Nasibnya kini pun terkatung-katung. Pagi hari, sesekali dia mengisi waktu luang untuk menerima orderan sebagai supir sewaan.

"Buat menyambung hidup, saya jadi sopir lepas. Bayarannya Rp100 Ribu. Kadang-kadang pihak Nyonya Meneer datang kemari untuk diminta mengantar pegawainya pulang, sempat juga mengantar ke rumah bosnya di Bukit Sari,” kata Broto.

Meski begitu, dia masih berharap Nyonya Meneer bisa memberikan hak-haknya selama menjadi pegawai puluhan tahun. Namun dengan kondisi yang pailit, sudah pasti hal tersebut sulit diwujudkan. (ita)

PILIHAN EDITOR

(DR/DR)
  1. Jawa Tengah
  2. Semarang
  3. Jamu Nyonya Meneer
KOMENTAR ANDA