1. OTONOMI
  2. NEWS

Candi Borobudur Merupakan Jam Raksasa Zaman Kuno?

Candi Borobudur memiliki 72 buah stupa berbentuk lonceng terbalik. Stupa terbesar berada di lantai teratas.

Stupa Candi Borobudur (merdeka.com). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Rohimat Nurbaya | Senin, 15 Mei 2017 06:05

Otonomi.co.id - Candi Borobudur merupakan salah satu keajaiban dunia. Peninggalan bersejarah ini ada di Magelang, Jawa Tengah.

Candi tersebut dibangun di atas tanah seluas 15 ribu meter atau sekitar 1,5 hektare. Bentuk candi Borobudur disebut-sebut lebih rumit dibanding Piramida Mesir. Untuk membangun candi tersebut, batu seberat 2 ton disusun satu per satu sampai jadi bukit berlantai 10.

Dikutip dari laman langitselatan, total volume batu andesit yang digunakan untuk membentuk susunan ini sebanyak 55.000 meter kubik. Pada dinding candi juga terukir 1.300 gambar relief cerita Buddha dan Mahabarata.

Batu itu juga diukir dengan gambar yang sangat teliti. Gambar itu berkisah tentang kehidupan rakyat Kerajaan Syailendra.

Para arkeolog menyebut, Borobudur diperkirakan dibangun sekitar tahun 800 Masehi oleh Wangsa Syailendra. Karena keagungan dan kemegahannya inilah Borobudur menjadi pusat ziarah Agama Buddha yang terbesar se-Asia sekitar tahun 900 sampai tahun 1000 Masehi.

Candi Borobudur (paketwisatajawa.com)

Jam raksasa

Tidak hanya itu, ternyata Candi Borobudur memiliki fungsi sebagai penanda waktu. Candi Borobudur adalah candi raksasa pada 800 Masehi.

Pada zaman dahulu, penanda waktu digunakan oleh manusia adalah gomon atau jam matahari. Sistemnya sangat sederhana, hanya sebuah tongkat yang diletakkan vertikal di atas tanah.

Dengan mengamati panjang bayangan tongkat setiap waktu maka dapat digambarkan sebuah pola bayangan tongkat. Pola bayangan tongkat inilah yang digunakan manusia purba untuk menandai waktu.

Kemudian nenek moyang di Nusantara sejak zaman dulu menggunakan rasi bintang di langit sebagai penanda waktu. Misalnya, masyarakat Jawa Tengah mengamati rasi bintang Orion hingga terbit dengan ketinggian tertentu untuk menentukan awal masa bercocok tanam.

Sistem jam Candi Borobudur (langitselatan.com)

Astronomi bukanlah pengetahuan yang mengawang-awang bagi nenek moyang kita. Mereka mengamati gerak bintang, matahari, dan bulan sebagai penanda waktu.

Bila diamati dari langit, bentuk Candi Borobudur simetris. Lantai 1 sampai 7 berbentuk persegi sama sisi. Sedangkan lantai 8 sampai 10 berbentuk lingkaran dengan pusatnya sebuah stupa utama dengan total tinggi 20 meter dan diameter 17 meter.

Stupa utama ini memiliki posisi yang unik, berada di pusat lingkaran stupa–stupa kecil. Dari bentuk candi yang simetris inilah seperti sebuah jam, akhirnya menimbulkan hipotesis bahwa stupa utama candi mempunyai fungsi sebagai sebuah penanda waktu.

Candi Borobudur memiliki 72 buah stupa berbentuk lonceng terbalik. Stupa terbesar berada di lantai teratas. Arsitek Borobudur memakai stupa-stupa itu sebagai titik tanda jam.

Jarum jamnya berupa bayangan sinar Matahari yang disebabkan stupa terbesar. Bayangan stupa terbesar selalu jatuh dengan tepat di stupa lantai bawah.

Tidak hanya itu, Candi Borobudur juga merupakan petunjuk arah yang sangat tepat. Tanpa bantuan kompas dan GPS.

Seperti diketahui, Matahari memang terbit di arah timur. Namun, tidak selalu tepat di titik timur. Matahari hanya terbit benar-benar di titik timur dalam dua kali setahun. Yaitu sekitar tanggal 20-21 Maret dan 22-23 September.

Arsitek Borobudur rupanya sudah mengetahui titik timur yang benar. Oleh karena itu, Candi Borobudur juga dibangun menghadap titik utara dan selatan dengan sangat tepat. (ita)

PILIHAN EDITOR

 

(RN/RN)
  1. Jawa Tengah
  2. Candi Borobudur
KOMENTAR ANDA
OTONOMI DAERAH
TERPOPULER
Nasional