1. OTONOMI
  2. NEWS

Burung Enggang, Hewan Langka yang Dikeramatkan Suku Dayak

Burung enggang dapat ditemukan dalam hampir semua aspek kehidupan orang Dayak, mulai dari patung hingga makam.

Burung Enggang (1001indonesia.net). ©2017 Otonomi.co.id Reporter : Rohimat Nurbaya | Jum'at, 11 Agustus 2017 10:01

Otonomi.co.id - Suku Dayak sebagai penduduk asli Kalimantan dikenal masih lekat dengan budaya mistis. Salah satu buktinya, orang Dayak sangat mengeramatkan burung enggang.

Dalam bahasa Inggris, enggang biasanya disebut dengan hornbill karena paruhnya memiliki tanduk atau cula. Burung termasuk dalam spesies dilindungi ini hampir tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Suku Dayak.

Makna burung enggang bagi suku ini menjadi salah satu tanda kedekatan masyarakat Nusantara dengan alam sekitarnya. Masyarakat suku Dayak sangat menghormati burung enggang. Bahkan di masyarakat Dayak ini ada yang namanya Panglima Burung yang diyakini merupakan jelmaan dari burung enggang.

Hampir seluruh bagian tubuh burung enggang menjadi lambang dan simbol kebesaran dan kemuliaan suku Dayak. Burung enggang juga dianggap sebagai lambang perdamaian dan persatuan.

Bukan Cuma Satu, Ini Perbedaan Rumpun Suku Dayak di Indonesia

Burung enggang dapat ditemukan dalam hampir setiap ruang masyarakat Dayak, seperti pada patung, ukiran, lukisan, pakaian, rumah, balai desa, monumen, pintu-pintu gerbang, hingga makam-makam.

Simbol pemimpin

Bagi orang Dayak, enggang juga menjadi simbol seorang pemimpin yang ideal. Hal ini karena burung enggang terbang dan hinggap di gunung-gunung dan pepohonan yang tinggi, bulu-bulunya indah, dan suaranya terdengar ke mana-mana.

Sayapnya yang tebal menggambarkan pemimpin yang melindungi rakyatnya. Suaranya yang keras menyimbolkan perintah pemimpin yang selalu didengar oleh rakyat. Ekornya yang panjang menjadi tanda kemakmuran rakyatnya. Secara keseluruhan, burung enggang menyimbolkan watak seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Paruh burung enggang digunakan sebagai lambang pemimpin perang orang Dayak. Namun, karena orang Dayak mengeramatkan burung ini, orang Dayak hanya mengambil paruh enggang yang sudah mati.

Bulu ekornya yang memiliki warna hitam dan putih digunakan dalam pakaian adat Kalimantan dan digunakan sebagai kostum dalam tari-tarian saat upacara adat. Para penari adat menggunakan bulu enggang sebagai hiasan kepala dan jari-jari tangan.

Langka

Di dunia, terdapat 57 spesies enggang yang tersebar di Asia dan Afrika, dan 14 di antaranya ada di Indonesia. Dari 14 spesies tersebut, 3 di antaranya termasuk spesies endemik yang tidak terdapat di negara lain. Dari berbagai spesies yang ada, enggang gading adalah yang terbesar dan menjadi target para pemburu liar karena paruhnya amat mahal.

Burung enggang dewasa bisa tumbuh hingga panjang 150 centimeter. Burung yang sudah dewasa juga biasanya hidup berpasang-pasangan. Bahkan, spesies ini tak bisa hidup tanpa pasangannya hingga muncul pernyataan, "membunuh satu enggang, sama saja membunuh dua enggang." Tak heran jika burung inipun jadi lambang kesetiaan.

Burung enggang betina suka bertelur di lubang pohon. Sarangnya ditutupi lumpur dan hanya menyisakan sedikit lubang. Saat mengerami telurnya, enggang betina tinggal di dalam sarang. Selama waktu pengeraman yang berlangsung lama ini (sekitar 4 bulan), enggang jantan akan memberi makan enggang betina melalui lubang kecil tersebut.

Sekarang, burung yang juga berperan besar dalam penyebaran benih pohon di hutan ini menjadi binatang yang langka dan sangat sulit ditemui--di hutan Kalimantan sekalipun. Penyusutan populasi enggang berakibat pada pelambatan pertumbuhan benih-benih pohon.

Habitat burung ini sebagian telah rusak oleh penebangan liar dan pengalihan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Belum lagi ulah para pemburu liar. Reproduksi enggang sendiri makan waktu cukup lama. Harga paruh dan bulu burung enggang yang sangat mahal menarik orang untuk memburunya.

Semuanya faktor itu berdampak pada makin langkanya enggang di hutan-hutan Kalimantan. Apabila hal tersebut dibiarkan, bukan tidak mungkin nantinya hanya mengenangnya melalui gambar dan rekaman video saja, sementara burung aslinya sudah punah dari muka bumi. (ita)

(Sumber: 1001indonesia.net)

PILIHAN EDITOR

(RN/RN)
  1. Kalimantan
  2. Suku Dayak
  3. Dayak
  4. Burung Enggang
KOMENTAR ANDA