Dinamika Perubahan Pedosfer

by -964 views
Dinamika Perubahan Pedosfer
Sumber: The Audiopedia

Proses Pembentukan Tanah

Tanah (soil) adalah kumpulan atau campuran bahan mineral dan bahan organic yang tersusun dalam horizon-horizon, terbentuk secara alamiah di permukaan bumi, serta merupakan media untuk pertumbuhan berbagai vegetasi. Tanah merupakan lapisa kulit bumi yang tipis paling atas di permukaan bumi. Secara alamiah proses perkembangan tanah terjadi terus menerus dipengaruhi oleh faktor batuan induk, topografi, iklim, organisme, dan waktu. Adapun batu-batuan yang menjadi bahan paling penting bagi pembentukan tanah adalah batuan beku magma terutama di daerah pegunungan dan batu-batuan sedimen terutama di daratan.

Diantara batu-batuan beku misalnya granit dan basalt yang banyak terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sedangkan di pulau Jawa batu-batuan demikan tertutup oleh batu-batuan gunung api dan endapan yang terbentuk sejak 1.000.000 tahun yang lalu. Batu-batuan yang dikeluarkan oleh gunung api berbentuk abu, akan menyebar ke daerah yang luas. Seperti tanah disekitar gunung Gerdong dan Burni Telong di tanah Gayo, dataran tinggi Karo, Gunung Kerinci, Gunung Dempo, bagian selatan Lampung, Gunung Papandayan, Galunggung, Ciremai, Slamet, Merapi, Rinjani, Agung, dan sebagainya. Dari batu-batuan sedimen terbentuk tanah pasir dan tanah liat. Selain itu ada pula tanah gamping yang berasal dari batuan kapur. Campuran tanah liat dan tanah kapur menjadi tanah napal.

Jenis-jenis tanah di Indonesia

Pegertian tanah secara umum ialah lapisan dar muka/kulit bumi sampai ke bawah dengan batas aktivitas biologis, yaitu kedalaman masih dapat dicapai kegiatan aktivitas organisme (jasad renik). Ada lima faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah dan kualitas tanah yaitu: (a) bahan induk (batuan induk); (b) relief/topografi (bentuk permukaan bumi dimana tanah terbentuk); (c) iklim (suhu, curah hujan dan intensitas); (d) vegetasi (tumbuhan, jasad renik, dan sebagainya), yang mempengaruhi proses pelapukan batuan induk dan pembentukan tanah; dan (e) waktu. Kombinasi dari lima faktor yang berbeda-beda itu akhirnya menghasilkan jenis tanah (great group) yang berbeda-beda sifatnya, dengan keadaan fisik lingkungan dan kualitas yang berbeda-beda. Di Kepulauan Indonesia yang mempunyai iklim tropic hujan ini, tanah yang terjadi banyak dipengaruhi oleh suhu udara dan curah hujan. Dengan kata lain pelarutan sangat berpengaruh. Adapun jenis tanah di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Tanah laterit,

Banyak terdapat di Kep, Indonesia dan daerah tropic hujan lain di muka bumi. Tanah laterik karena terjadi pengaruh hujan yang banyak dan suhu tinggi sehingga terjadi pelarutan berbagai mineral yang berguna bagi tumbuhan dan mensisakan oksida besi dan alumunium. Tanah gunung api yang mengalami pelarutan hujan dan suhu tinggi akan berubah warna dari keabu-abuan menjadi kemerah-merahan. Pemupukan tanah laterit akan menambah kesuburannya, sehingga susunan butir tanahnya sudah cukup baik untuk keperluan pernapasan akar tanaman.

2. Tanah pucat atau padzol

Proses terjadinya sama dengan tanah laterit, tetapi dibawah pengaruh hujan banyak dengan suhu rendah. Karena itu banyak terdapat di daerah pegunungan Indonesia.

3. Tanah margalit

Terjadi dari batuan yang banyak mengandung kapur di bawah pengaruh curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun. Oleh karena itu warnanya menjadi hitam, tanah jenis ini terdapat di Madiun, Kediri, dan Nusa Tenggara.

4. Tanah terra-rosa

Terbentuk dari pelapukan batuan kapur. Banyak terdapat di dasar dolina dan merupakan tanah pertanian subur di daerah batu kapur itu.

5. Tanah padas

Tanah ini amat padat, akibat mineral-mineral yang dikeluarkan oleh air dari lapisan di atasnya.

6. Tanah gambut atau rawa

Terbentuk karena tanah selalu tergenang air yang menyebabkan peredaran udara didalamnya sangat buruk. Dengan demikan tanah ini banyak terdapat di daerah rawa-rawa luas pada beberapa pantai di Indonesia.

 

Erosi tanah

Air yang mengalir pada permukaan (run off) dapat mengikis bagian atas tanah, pengikisan/erosi tanah oleh tenaga air terdiri dari (1) erosi percik/splash erosion yaitu pengikisan tanah akibat percikan air hujan yang jatuh ke tanah tersebut, (2) erosi lembar/sheet erosion merupakan pengikisan tanah paling atas dan tipis sehingga ketebalan tanah berkurang, erosi ini dapat mengurangi kesuburan tanah, (3) erosi alur/rill erosion merupakan erosi lembar yang berlangsung terus-menerus sehingga menyebabkan terbentuknya alur-alur searah dengan kemiringan lereng daerah tersebut, dan (4) erosi parit/gully erosion; erosi ini sama dengan erosi alur, tetapi saluran yang terbentuk lebih dala,. Pada dasarnya degradasi/kerusakan lahan terjadi karena pemanfaatan lahan tidak diikuti dengan tindakan konservasi tanah dan air. Penyebab degradasi lahan dapat dibagi dalam lima kelompok, yaiu: (1) erosi dan seimentasi, (2) penggaraman/salinitasi, (3) residu pestisida, pencemaran limbah anorganik dan logam berat oleh industri, (4) penggunaan pupuk, dan (5) limbah organik.

 

Upaya Pencegahan Kerusakan Lahan/Tanah

Upaya pemeliharaan dan perlindungan terhadap tanah secara teratur perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan tanah (konservasi tanah). Konservasi tanah dapat dilakukan dengan 3 metode yaitu: (1) metode mekanik, metode ini adalah upaya untuk mencegah banyaknya tanah yang hilang akibat erosi, upaya ini dilakukan dengan cara terasering, rorak, guludan, pembuatan parit, dan tanggul; (2) metode vegetative, metode dengan menggunakan tanaman untuk mengurangi kerusakan lapisan tanah bagian atas, upaya ini dilakukan dengan cara penghijauan, reboisasi, rotasi tanaman, dan tanaman penutup tanah. (3) metode kimiawi, metode dengan memanfaatkan bahan kimia yang bertujuan untuk memperbaiki kemantapan struktur tanah.

 

Pengaruh Tumbuhan, Hewan, dan Manusia

Pada peristiwa pembentukan tanah, tumbuhan mempunyai peranan seperti sumber humus yang ikut memperkaya mineral dalam tanah tersebut dan tumbuhan juga mempengaruhi suhu tanah. Karena itu tanah hutan lebih sejuk daripada tanah terbuka. Akiabtnya penguapan air tanah hutan lebih kecil daripada penguapan tanah terbuka. Hutan mempunyai pernan dalam pengaliran dan perembesan air hujan. Dengan begitu merupakan pelindung tanah. Hewan-hewan yang terutama hidup dalam tanah ikut memengaruhi susunan butir-butir dan susunan kimia tanah. Pengaruh terbesar datangnya dari manusia. Manusia dengan segala aktivitas dapat menyebabkan kerusakan pada tanah jika dalam pemanfaatannya itu tidak memperhatikan kelestariannya. Disamping itu dengan ilmu dan teknologi yang dimiliki manusia dapat merubah tanah yang tandus menjadi subur.